Thursday, 11 May 2017

Biografi Sunan Kudus

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali --yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti "sapi betina". Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. 

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

menurut riwayat beliau juga termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. diantara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil. Adapun Imam Ja'far Sodiq yang terkenal di Iran itu tidak saja sebagai seorang imam dari kaum Syi'ah, akan tetapi juga sebagai seorang yang terkemuka di dalam soal-soal hukum maupun ilmu pengetahuan lainnya.

Dengan demikian, maka menurut hemat kita Ja'far Sodiq yang terkenal di Iran sebagai seorang wali, seorang imam dari golongan Syi'ah yang amat dipuja serta dihormati itu, kiranya bukanlah Ja'far Sodiq seorang wali yang menjadi salah seorang anggota dari kesembilan wali di Jawa, yang makamnya terdapat di kota Kudus, adapun Ja'far Sodiq yang kemudian ini, terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Disamping bertindak sebagai guru agama Islam. juga sebagai salah seorang yang kuat syariatnya, Senan Kudus-pun menjadi senopati dari kerajaan Islam di Demak

Antara lain yang termasuk bekas peninggalan beliau adalah Masjid Raya di-Kudus, yang kemudian dikenal dengan sebutan masjid menara Kudus. Oleh karena di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah. Mengenai asal-usulnya nama Kudus menurut dongeng (legenda) yang hidup dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di tanah arab, kemudian beliaupun mengajar pula di sana. pada suatu masa, di tanah arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan, penyakit mana kemudian menjadi reda, berkat jasa sunan kudus., oleh karena itu, seorang amir disana berkenan untuk memberikan suatu hadian kepada beliau. akan tetapi beliau menolak,hanya kenang-kenangan beliau meminta sebuah batu. Batu tersebut katanya berasal dari kota Baitul Makdis, atau Jeruzalem, maka sebagai peringatan kepada kota dimana Ja'far Sodiq hidup serta bertempat tinggal, kemudian diberikan nama Kudus. Bahkan menara yang terdapat di depan masjid itupun juga menjadi terkenal dengan sebutan menara Kudus.

Adapun mengenai nama Kudus atau Al Kudus ini di dalam buku Encyclopedia Islam antara lain disebutkan : "Al kuds the usual arabic nama for Jeruzalem in later times, the olders writers call it commonly bait al makdis (according to some : mukaddas), with really meant the temple (of solomon), a translation of the hebrew bethamikdath, but itu because applied to the whole town." Mengenai perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam tidak berbeda dengan para wali lainnya, yaitu senantiasa dipakai jalan kebijaksanaan, dengan siasat dan taktik yang demikian itu, rakyat dapat diajak memeluk Agama Islam.

Biografi Sunan Gresik


Gresik adalah sebuah daerah di provinsi Jawa Timur yang mana dikenal sebagai salah satu daerah industri utama di Jawa Timur. Ada beberapa perusahaan besar di Gresik dan juga merupakan penghasil perikanan yang cukup besar. Tapi tahukah Anda bahwa di Gresik ada sebuah makam penyebar agama Islam di Jawa yaitu Sunan Maulana Malik Ibrahim atau biasa dipanggil Sunan Gresik.  Nah pada kesempatan ini saya ingin menceritakan kisah beliau mulai dari silsilah sampai perjuangan beliau menyebarkan agama Islam di Jawa.

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dipercaya sebagai orang yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Meski tidak terdapat bukti sejarah lengkap yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya dapat ditafsirkan bahwa beliau berasal dari wilayah arab maghrib di Afrika Utara. diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419 M.

Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagian rakyat Gresik sudah ada yang beragam Islam, tetapi masih banyak yang beragama Hindu atau bahkan tidak beragama sama sekali. Sunan Gresik bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Sifatnya lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau dengan non muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia. Dalam Dakwah kakek bantal menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Qur’an yaitu :

“Hendaklah engkau ajak kejalan TuhanMu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk-petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya (QS. An Nahl ; 125)”

Di Jawa, kakek bantal bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan iman dari orang-orang Islam yang bercampur dengan kegiatan Musyrik. Caranya , beliau tidak langsung menentang kepercayaan mereka yang salah itu melainkan mendekati mereka dengan penuh hikmah, beliau tunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak Islami sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.

Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan ahli pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam. Dan orang-orang sakit banyak yang disembuhkannya dengan daun-daunan tertentu.

Biografi Sunan Giri

PDikenal dengan nama Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra adalah nama salah seorang Wali Songo yang berkedudukan di desa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada tahun Saka Candra Sengkala “Jalmo orek werdaning ratu” (1365 Saka). dan wafat pada tahun Saka Candra Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” (1428 Saka) di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW; yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad Al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi Hadramaut.

Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahiran Sunan Giri ini dianggap rakyat Blambangan sebagai pembawa kutukan berupa wabah penyakit di kerajaan Blambangan. Kelahiran Sunan Giri disambut Prabu Menak Sembuyu dengan membuatkan peti terbuat dari besi untuk tempat bayi dan memerintahkan kepada para pengawal kerajaan untuk menghanyutkannya ke laut.
Berita itupun tak lama terdengar oleh Dewi Sekardaru. Dewi Sekardadu berlari mengejar bayi yang barusaja dilahirkannya. Siang dan malam menyusuri pantai dengan tidak memikirkan lagi akan nasib dirinya. Dewi Sekardadupun meninggal dalam pencariannya.

Peti besi berisi bayi itu terombang-ambing ombak laut terbawa hinga ke tengah laut. Peti itu bercahaya berkilauan laksana kapal kecil di tengah laut. Tak ayal cahaya itu terlihat oleh sekelompok awak kapal (pelaut) yang hendak berdagang ke pulau Bali. Awak kapal itu kemudian menghampiri, mengambil dan membukanya peti yang bersinar itu. Awak kapal terkejut setelah tahu bahwa isi dari peti itu adalah bayi laki-laki yang molek dan bercahaya. Awak kapalpun memutar haluan kembali pulang ke Gresik untuk memberikan temuannya itu kepada Nyai Gede Pinatih seorang saudagar perempuan di Gresik sebagai pemilik kapal. Nyai Gede Pinatih keheranan dan sangat menyukai bayi itu dan mengangkanya sebagai anak dengan memberikan nama Joko Samudra.
Saat mulai remaja diusianya yang 12 tahun, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk berguru ilmu agama kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel) atas permintaannya sendiri. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai sebelum menunaikan keinginannya untuk melaksanakan ibadah Haji. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Di sinilah, Joko Samudra mengetahui cerita mengenai jalan hidup masa kecilnya.

Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin diperintahkan gurunya yang tak lain adalah ayahnya sendiri itu untuk kembali ke Jawa untuk mengembangkan ajaran islam di tanah Jawa. Dengan berbekal segumpal tanah yang diberikan oleh ayahandanya sebagai contoh tempat yang diinginkannya, Raden ‘Ainul Yaqin berkelana untuk mencari dimana letak tanah yang sama dengan tanah yang diberikan oleh ayahanya. Dengan bertafakkur dan meminta pertolongan serta petunjuk dari Allah SWT. maka petunjuk itupun datang dengan adanya bukit yang bercahaya. Maka didatangilah bukit itu dan di lihat kesamaanya dan ternyata memang benar-benar sama dengan tanah yang diberikan oleh ayahnya. Perbukitan itulah yang kemudian ditempati untuk mendirikan sebuah pesantren Giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas, Gresik pada tahun Saka nuju tahun Jawi Sinong milir (1403 Saka). Pesantren ini merupakan pondok pesantren pertama yang ada di kota Gresik. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sumbawa, Sumba, Flores, Ternate, Sulawesi dan Maluku. Karena pengaruhnya yang luas saat itu Raden Paku mendapat julukan sebagai Raja dari Bukit Giri. Pengaruh pesantren Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan yang disebut Giri. Kerajaan Giri Kedaton menguasai daerah Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Terdapat beberapa karya seni tradisonal. Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, di antaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Jor, Gula-gantiLir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung

Biografi Sunan Ampel

Ia merupakan salah seorang anggota Walisanga yang sangat besar jasanya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa. Sunan Ampel adalah bapak para wali.Dari tangannya lahir para pendakwah Islam kelas satu di bumi tanah jawa. Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sedangkan sebutan sunan merupakan gelar kewaliannya, dan nama Ampel atau Ampel Denta itu dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, sebuah tempat dekat Surabaya1.

Ia dilahirkan tahun 1401 Masehi di Champa.Para ahli kesulitan untuk menentukan Champa disini, sebab belum ada pernyataan tertulis maupun prasasti yang menunjukkan Champa di Malaka atau kerajaan Jawa. Saifuddin Zuhri (1979) berkeyakinan bahwa Champa adalah sebutan lain dari Jeumpa dalam bahasa Aceh, oleh karena itu Champa berada dalam wilayah kerejaan Aceh. Hamka (1981) berpendapat sama, kalau benar bahwa Champa itu bukan yang di Annam Indo Cina, sesuai Enscyclopaedia Van Nederlandsch Indie, tetapi di Aceh.

Ayah Sunan Ampel atau Raden Rahmat bernama Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Ibunya bernama Dewi Chandrawulan, saudara kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah, istri raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Istri Sunan Ampel ada dua yaitu: Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati.

Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah, dikaruniai dua orang anak yaitu: Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah (sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu: Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat atau kadang-kadang disebut Sunan Sedayu.

Sunan Ampel dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi dan alim, sangat terpelajar dan mendapat pendidikan yang mendalam tentang agama Islam. Sunan Ampel juga dikenal mempunyai akhlak yang mulia, suka menolong dan mempunyai keprihatinan sosial yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial. 

Biografi Sunan Muria

Beliau adalah putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama aslinya Raden Umar Said. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota

Kudus

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria. Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.

Bahwa Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuatfisiknya dapat dibuktikan dengan letak padepokannya yang terletak diatas gunung . Menurut pengalaman penulis jarak antara kaki undag undagan atau tangga dari bawah bukit sampai kemakam Sunan Muria (tidak kurang dari750 M). Bayangkanlah, jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik-turun, turun-naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat ,atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria.Harus jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian tinggi, demikian pula murid-muridnya.

Silsilah Sunan Muria

Satu versi menyebutkan, Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ahli sejarah A.M. Noertjahjo (1974) dan Solihin Salam (1964, 1974) yakin dengan versi ini. Berdasarkan penelusuran mereka, pernikahan Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh binti Maulana Is-haq memperoleh tiga anak, yakni Sunan Muria, Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah.

Versi lain memaparkan, Sunan Muria adalah putra Raden Usman Haji alias Sunan Ngudung. Karya R. Darmowasito, Pustoko Darah Agung, yang berisi sejarah dan silsilah wali dan raja-raja Jawa, menyebutkan Sunan Muria sebagai putra Raden Usman Haji. Bahkan ada juga yang menyebutnya keturunan Tionghoa.

Dalam bukunya, Runtuhnya Kerajaan Hindhu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (1968), Prof. Dr. Slamet Muljana menyebutkan ayah Sunan Muria, Sunan Kalijaga, tak lain seorang kapitan Tionghoa bernama Gan Sie Cang. Sunan Muria disebut ''tak pandai berbahasa Tionghoa karena berbaur dengan suku Jawa''.

Slamet mengacu pada naskah kuno yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong, Semarang, pada 1928. Pemerintahan Orde Baru ketika itu khawatir penemuan Slamet ini mengundang heboh. Akibatnya, karya Slamet itu masuk dalam daftar buku yang dilarang Kejaksaan Agung pada 1971. Sayang sekali, belum ada telaah mendalam mengenai berbagai versi itu.

Sejauh ini, karya Umar Hasyim, Sunan Muria: Antara Fakta dan Legenda (1983), bolehlah digolongkan penelitian awal yang mencoba menelusuri silsilah Sunan Muria secara lebih ilmiah. Ia berusaha membedakan cerita rakyat dengan fakta. Misalnya tentang Sunan Muria sebagai keturunan Tionghoa.

Umar mengumpulkan sejumlah pendapat ahli sejarah. Ternyata, keabsahan naskah kuno tadi meragukan, karena telah bercampur dengan dongeng rakyat. Walau begitu, Umar mengaku kadang kadang terpaksa mengandalkan penafsirannya dalam menelusuri jejak Sunan Muria. Hasilnya, Umar cenderung pada versi Sunan Muria sebagai putra Sunan Kalijaga.

Cara Berdakwah

Dari berbagai versi itu, tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Gayanya ''moderat'', mengikuti Sunan Kalijaga, menyelusup lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya.

Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau salawat. Sunan Muria juga berdakwah lewat berbagai kesenian Jawa, misalnya mencipta macapat, lagu Jawa. Lagu sinom dan kinanti dipercayai sebagai karya Sunan Muria, yang sampai sekarang masih lestari.

Lewat tembang-tembang itulah ia mengajak umatnya mengamalkan ajaran Islam. Karena itulah, Sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata ketimbang kaum bangsawan. Maka daera dakwahnya cukup luas dan tersebar. Mulai lereng-lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juana, sampai pesisir utara.

Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ''menghanyutkan diri'' dalam masyarakat. Sasaran dakwah dari Sunan Muria adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Ia adalah satu-atunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan islam.

Keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. Tempat dakwahnya berada di sekitar gunung muria, kemudian dakwahnya diperlua meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria. Ia dikenal dengan sebutan sunan muria karena tinggal di gunung Muria.Sampai kini, kompleks makam Sunan Muria, yang terletak di Desa Colo, tak pernah sepi dari penziarah. Dalam seharinya tempat tersebut dikunjungi tak kurang dari 15.000 penziarah. (Berbagai sumber)

Biografi Sunan Kalijaga

Nama aslinya adalah Joko Said yang dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya.

Pembangkangan Joko Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang.

Karena tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko Said untuk mengatakan pada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.

Ayahnya tidak dapat menerima alasannya ini karena menganggap Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena itu, Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an.

Maksud dari ‘menggetarkan seisi Tuban’ di sini ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat karena ilmunya.

Riwayat masyhur kemudian menceritakan bahwa setelah diusir dari istana kadipaten, Joko Said berubah menjadi seorang perampok yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur. Sebagai Perampok, Joko Said selalu ‘memilih’ korbannya dengan seksama. Ia hanya merampok orang kaya yang tak mau mengeluarkan zakat dan sedekah.

Dari hasil rampokannya itu, sebagian besarnya selalu ia bagi-bagikan kepada orang miskin. Kisah ini mungkin mirip dengan cerita Robin Hood di Inggris. Namun itulah riwayat masyhur tentang beliau. Diperkirakan saat menjadi perampok inilah, ia diberi gelar ‘Lokajaya’ artinya kurang lebih ‘Perampok Budiman’.

Semuanya berubah saat Lokajaya alias Joko Said bertemu dengan seorang ulama , Syekh Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. Sunan Bonang inilah yang kemudian mernyadarkannya bahwa perbuatan baik tak dapat diawali dengan perbuatan buruk –sesuatu yang haq tak dapat dicampuradukkan dengan sesuatu yang batil sehingga Joko Said alias Lokajaya bertobat dan berhenti menjadi perampok.

Joko Said kemudian berguru kepada Sunan Bonang hingga akhirnya dikenal sebagai ulama dengan gelar ‘Sunan Kalijaga’.

Sejarah Nama 'Kalijaga'
Pertanyaan ini masih menjadi misteri dan bahan silang pendapat di antara para pakar sejarah hingga hari ini. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati.

Ini dihubungkan dengan kebiasaan wong Cerbon untuk menggelari seseorang dengan daerah asalnya –seperti gelar Sunan Gunung Jati untuk Syekh Syarif Hidayatullah, karena beliau tinggal di kaki Gunung Jati.

Fakta menunjukan bahwa ternyata tidak ada ‘kali’ di sekitar dusun Kalijaga sebagai ciri khas dusun itu. Padahal, tempat-tempat di Jawa umumnya dinamai dengan sesuatu yang menjadi ciri khas tempat itu. Misalnya nama Cirebon yang disebabkan banyaknya rebon (udang), atau nama Pekalongan karena banyaknya kalong (Kelelawar).

Logikanya, nama ‘Dusun Kalijaga’ itu justru muncul setelah Sunan Kalijaga sendiri tinggal di dusun itu. Karena itu, klaim Masyarakat Cirebon ini kurang dapat diterima.

Riwayat lain datang dari kalangan Jawa Mistik (Kejawen). Mereka mengaitkan nama ini dengan kesukaan wali ini berendam di sungai (kali) sehingga nampak seperti orang yang sedang “jaga kali”. Riwayat Kejawen lainnya menyebut nama ini muncul karena Joko Said pernah disuruh bertapa di tepi kali oleh Sunan Bonang selama sepuluh tahun.

Pendapat yang terakhir ini yang paling populer. Pendapat Ini bahkan diangkat dalam film ‘Sunan Kalijaga’ dan ‘Walisongo’ pada tahun 80-an. Saya sendiri kurang sepaham dengan kedua pendapat ini.

Secara sintaksis, dalam tata bahasa-bahasa di Pulau Jawa (Sunda dan Jawa) dan segala dialeknya, bila ada frase yang menempatkan kata benda di depan kata kerja, itu berarti bahwa kata benda tersebut berlaku sebagai subjek yang menjadi pelaku dari kata kerja yang mengikutinya. Sehingga bila ada frase ‘kali jaga’ atau ‘kali jogo’ berarti ada ‘sebuah kali yang menjaga sesuatu’.

Ini tentu sangat janggal dan tidak masuk akal. Bila benar bahwa nama itu diperoleh dari kebiasaan Sang Sunan kungkum di kali atau karena beliau pernah menjaga sebuah kali selama sepuluh tahun non-stop (seperti dalam film), maka seharusnya namanya ialah “Sunan Jogo Kali” atau “Sunan Jaga Kali”.

Kemudian secara logika, silakan anda pikirkan masak-masak. Mungkinkah seorang da’i menghabiskan waktu dengan kungkum-kungkum di sungai sepanjang hari? Tentu saja tidak. Sebagai da’i yang mencintai Islam dan Syi’ar-nya, tentu ada banyak hal berguna yang dapat beliau lakukan.

Riwayat Kejawen bahwa beliau bertapa selama sepuluh tahun non-stop di pinggir kali juga merupakan riwayat yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang ulama saleh terus-menerus bertapa tanpa melaksanakan shalat, puasa, bahkan tanpa makan dan minum? Karena itu, dalam pendapat saya, kedua riwayat itu ialah riwayat batil dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Fakta Nama 'Kalijaga'
Pendapat yang paling masuk akal ialah bahwa sebenarnya nama ‘kalijaga’ berasal dari bahasa Arab “Qadli’ dan nama aslinya sendiri, ‘Joko Said’, jadi frase asalnya ialah ‘Qadli Joko Said’ (Artinya Hakim Joko Said). Sejarah mencatat bahwa saat Wilayah (Perwalian) Demak didirikan tahun 1478, beliau diserahi tugas sebagai Qadli (hakim) di Demak oleh Wali Demak saat itu, Sunan Giri.

Masyarakat Jawa memiliki riwayat kuat dalam hal ‘penyimpangan’ pelafalan kata-kata Arab, misalnya istilah Sekaten (dari ‘Syahadatain’), Kalimosodo (dari ‘Kalimah Syahadah’), Mulud (dari Maulid), Suro (dari Syura’), Dulkangidah (dari Dzulqaidah), dan masih banyak istilah lainnya. Maka tak aneh bila frase “Qadli Joko” kemudian tersimpangkan menjadi ‘Kalijogo’ atau ‘Kalijaga’.

Posisi Qadli yang dijabat oleh Kalijaga alias joko Said ialah bukti bahwa Demak merupakan sebuah kawasan pemerintahan yang menjalankan Syariah Islam. Ini diperkuat oleh kedudukan Sunan Giri sebagai Wali di Demak. Istilah ‘Qadli’ dan ‘Wali’ merupakan nama-nama jabatan di dalam Negara Islam. Dari sini sajasudah jelas, siapa Sunan Kalijaga sebenarnya; ia adalahseorang Qadli, bukan praktisi Kejawenisme.

Da’wah Sunan Kalijaga adalah Da’wah Islam, Bukan Da’wah Kejawen atau Sufi-Pantheistik
Kita kembali ke Sunan Kalijaga alias Sunan Qadli Joko. Riwayat masyhur mengisahkan bahwa masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Ini berarti bahwa beliau mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit pada 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan hingga Kerajaan Pajang (lahir pada 1546) serta awal kehadiran Kerajaan Mataram. Bila riwayat ini benar, maka kehidupan Sunan Kalijaga adalah sebuah masa kehidupan yang panjang.

Manuskrip-manuskrip dan babad-babad tua ternyata hanya menyebut-nyebut nama beliau hingga zaman Kesultanan Cirebon saja, yakni hingga saat beliau bermukim di dusun Kalijaga. Dalam kisah-kisah pendirian Kerajaan Pajang oleh Jaka Tingkir dan Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati, namanya tak lagi disebut-sebut.

Logikanya ialah, bila saat itu beliau masih hidup, tentu beliau akan dilibatkan dalam masalah imamah di Pulau Jawa karena pengaruhnya yang luas di tengah masyarakat Jawa.

Fakta menunjukan bahwa makamnya berada di Kadilangu, dekat Demak, bukan di Pajang atau di kawasan Mataram (Yogyakarta dan sekitarnya) –tempat-tempat di mana Kejawen tumbuh subur. Perkiraan saya, beliau sudah wafat saat Demak masih berdiri.

Riwayat-riwayat yang batil banyak menceritakan kisah-kisah aneh tentang Sunan Kalijaga –selain kisah pertapaan sepuluh tahun di tepi sungai. Beberapa kisah aneh itu antara lain, bahwa beliau bisa terbang, bisa menurunkan hujan dengan hentakan kaki, mengurung petir bernama Ki Ageng Selo di dalam Masjid Demak dan kisah-kisah lain yang bila kita pikirkan dengan akal sehat non intelek tidak mungkin bisa masuk ke dalam otak manusia. Kisah-kisah aneh macam itu hanya bisa dipercaya oleh orang gila yang gemar sihir.

Ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dan berbau Hindu-Budha serta Kejawen. Padahal fakta tentang kehidupan Sunan Kalijaga adalah Da’wah dan Syi’ar Islam yang indah. Buktinya sangat banyak sekali. Sunan Kalijaga adalah perancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.

Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi peninggalan Sunan Kalijaga. Mana mungkin seorang kejawen ahli mistik mau-maunya mendirikan Masjid yang jelas-jelas merupakan tempat peribadatan Islam.

Paham keagamaan Sunan Kalijaga adalah salafi –bukan sufi-panteistik ala Kejawen yang ber-motto-kan ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Ini terbukti dari sikap tegas beliau yang ikut berada dalam barisan Sunan Giri saat terjadi sengketa dalam masalah ‘kekafiran’ Syekh Siti Jenar dengan ajarannya bahwa manusia dan Tuhan bersatu dalam dzat yang sama.

Kesenian dan kebudayaan hanyalah sarana yang dipilih Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Beliau memang sangat toleran pada budaya lokal. Namun beliau pun punya sikap tegas dalam masalah akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, beliau menerimanya.

Wayang beber kuno ala Jawa yang mencitrakan gambar manusia secara detail dirubahnya menjadi wayang kulit yang samar dan tidak terlalu mirip dengan citra manusia, karena pengetahuannya bahwa menggambar dan mencitrakan sesuatu yang mirip manusia dalam ajaran Islam adalah haram hukumnya.

Cerita yang berkembang mengisahkan bahwa beliau sering bepergian keluar-masuk kampung hanya untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dengan beliau sendiri sebagai dalangnya. Semua yang menyaksikan pertunjukan wayangnya tidak dimintai bayaran, hanya diminta mengucap dua kalimah syahadat. Beliau berpendapat bahwa masyarakat harus didekati secara bertahap.

Pertama berislam dulu dengan syahadat selanjutnya berkembang dalam segi-segi ibadah dan pengetahuan Islamnya. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahwa bila Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Lakon-lakon yang dibawakan Sunan Kalijaga dalam pagelaran-pagelarannya bukan lakon-lakon Hindu macam Mahabharata, Ramayana, dan lainnya. Walau tokoh-tokoh yang digunakannya sama (Pandawa, Kurawa, dll.).

Beliau menggubah sendiri lakon-lakonnya, misalnya Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja yang semuanya memiliki ruh Islam yang kuat. Karakter-karakter wayang yang dibawakannya pun beliau tambah dengan karakter-karakter baru yang memiliki nafas Islam. Misalnya, karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Keislaman.

Adapun Istilah dalam Pewayangan merujuk pada Bahasa Arab :
Istilah ‘Dalang’ berasal dari bahasa Arab, ‘Dalla’ yang artinya menunjukkan. Dalam hal ini, seorang ‘Dalang’ adalah seseorang yang ‘menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang’. Mandalla’alal Khari Kafa’ilihi (Barangsiapa menunjukan jalan kebenaran atau kebajikan kepada orang lain, pahalanya sama dengan pelaku kebajikan itu sendiri –Sahih Bukhari)Karakter ‘Semar’ diambil dari bahasa Arab, ‘Simaar’ yang artinya Paku. Dalam hal ini, seorang Muslim memiliki pendirian dan iman yang kokoh bagai paku yang tertancap, Simaaruddunyaa.Karakter ‘Petruk’ diambil dari bahasa Arab, ‘Fat-ruuk’ yang artinya ‘tingggalkan’. Maksudnya, seorang Muslim meninggalkan segala penyembahan kepada selain Allah, Fatruuk-kuluu man siwallaahi.Karakter ‘Gareng’ diambil dari bahasa Arab, ‘Qariin’ yang artinya ‘teman’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak ke arah kebaikan, Nalaa Qaarin.Karakter ‘Bagong’ diambil dari bahasa Arab, ‘Baghaa’ yang artinya ‘berontak’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berontak saat melihat kezaliman.Seni ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta seni suara suluk yang diciptakannya merupakan sarana dakwah semata, bukan budaya yang perlu ditradisikan hingga berkarat dalam kalbu dan dinilai sebagai ibadah mahdhah. Beliau memandang semua itu sebagai metode semata, metode dakwah yang sangat efektif pada zamannya.

Secara filosofis, ini sama dengan da’wah Rasulullah SAW yang mengandalkan keindahan syair Al Qur’an sebagai metode da’wah yang efektif dalam menaklukkan hati suku-suku Arab yang gemar berdeklamasi.

Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan keluar-masuk kampung dan memberikan hiburan gratis pada rakyat, melalui berbagai pertunjukan seni, pun memiliki nilai filosofi yang sama dengan kegiatan yang biasa dilakukan Khalifah Umar ibn Khattab r.a. yang suka keluar-masuk perkampungan untuk memantau umat dan memberikan hiburan langsung kepada rakyat yang membutuhkannya.

Persamaan ini memperkuat bukti bahwa Sunan Kalijaga adalah pemimpin umat yang memiliki karakter, ciri, dan sifat kepemimpinan yang biasa dimiliki para pemimpin Islam sejati, bukan ahli Kejawen.

Biografi Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas


Nasab Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas.

Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, lahir tahun 992 H / 1572 M di desa Lisk, dekat kota Inat, Hadramaut. Beliau pula yang mula-mula mendapat gelar Al-Attas, “Orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri, beliau sering bersin. Janin yang masih dalam kandungan dan bisa bersin, tentulah luar biasa. Dan itulah karomah pertama Habib Umar. Sejak kecil beliau diasuh oleh dan dididik oleh oleh ayah beliau sendiri Habib Abdurrahman bin Aqil. Meskipun matanya buta sejak kecil, tetapi Allah SWT memberi beliau kecerdasan otak dan pandangan hati ( bashirah ), sehingga beliau medah menghapal apa saja yang didengarnya. Sejak kecil beliau anak yang tekun beribadah, hidup zuhud berpaling dari dunia dan sejak kecil sudah terlihat tanda-tanda kebesaran pada diri beliau. Sejak kecil, beliau sering ke kota Tarim dari desanya Lisk dan melakukan shalat dua raka,at di setiap masjid yang ada di kota Tarim, bahkan menimba air dari sumur untuk mengisi kolam-kolam masjid.
Ayahanda beliau, Habib Abdurrahman bin Aqil, adalah seorang ulama, tokoh para wali terkemuka, pernah menerima ilmu dan wilayah dari pamannya, yaitu Syekh Abu Bakar bin Salim, yang sangat mencintainya dan kepada ayahnya Habib Aqil, yang merupakan saudara kandung Syekh Abu Bakar bin Salim. Ketika Habib Abdurrahman wafat, di kota Huraidzah, maka Habi Umar menyuruh pembantunya untuk membantu mencarikan tanah yang cocok untuk dijadikan kuburan ayahnya. Akhirnya sang pembantu mendapatkan sebidang tanah yang ditandai dengan sebuah tiang dari cahaya. Akhirnya Habib Abdurrahman dimakamkan di tempat tersebut. Biasanya jika Habib Umar berziarah ke maqam ayahnya, maka beliau bercaka-cakap dengan ayah beliau dari balik kubur.
Habib Abdurrahman bin Aqil menikah dengan dua orang wanita, yaitu Syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad bin Alwi Al-Jufri ( ibunda Habib Umar, Habib Abdullah dan Hababah Alawiyah ) dan Arobiyah binti Yamani Bathouq ( ibunda Habib Aqil, Habib Sholeh, Musyayakh dan Maryam ).

Pindahnya Habib Umar Al Atthas ke desa Huraidzah

ketika Habib Umar mencapai usia akil baligh, maka guru beliau Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim menyuruh beliau untuk berdakwah ke desa Huraidzah. Demikian pula guru beliau yang bernama Habib Hamid bin Syekh Abu Bakar bin Salim juga menyuruh beliau untuk segera berdakwah ke desa Huraidzah. Maka beliau segera berdakwah kesana. Mulanya beliau sering pulang pergi ke Huraidzah; akhirnya beliau menetap disana pada tahun 1040 H.
ketika Habib Umar tiba di Huraidzah untuk pertama kalinya, beliau diminta oleh Syekh Najjaad Adz Dzibyani untuk menetap di rumahnya, karena sangat menghormati dan barokah yang luar biasa dari beliau. Di desa tersebut ada seorang wanita yang bernama Sholahah, ia bernazar untuk memberikan hartanya dan bagian dari rumahnya kepada Habib Umar. Pemberian dari wanita itu diterima oleh beliau, yang kemudian meminangnya sebagai imbalan atas kebaikannya itu.
Selanjutnya Habib Umar mengajak ayahnya dan saudara-saudaranya untuk pindah ke Huraidzah. Pada mulanya ajakan tersebut ditolak ayah beliau; tetapi setelah keduanya minta pendapat Habib Husein dan Habib Hamid, maka kedua guru Habib Umar menyuruh Habib Abdurrahman untuk mengikuti ajakan beliau. Kedua guru beliau mengatakan :

”Wahai Abdurrahman pergilah bersama Umar, dan ikuti serta pegangi pendapatnya, sekalipun kau adalah ayahnya dan dia anakmu.” 

Maka Habib Abdurrahman berkata kepada putranya :

”Wahai Umar, kalau sekarang kami mau mengikuti pendapatmu, maka lakukanlah apa saja yang terbaik bagi kami.”

Selanjutnya seluruh keluarga Habib Umar segera meninggalkan Lisk menuju desa Huraidzah.

Guru-guru Habib Umar.

1. Habib Muhdhor bin Syekh Abu Bakar bin Salim
2. Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim
3. Habib Hamid bin Syekh Abu Bakar bin Salim
4. Habib Muhammad bi Abdurrahman Al-Hadi
5. Sayyid Umar bin Isa Barakwah As Samarqandi
6. Syekh Al Kabir Ahmad bin Shahal bin Ishaq Al Hainani
7. Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihab 
8. Syekh Abdullah bin Ahmad Al Afif
9. Syekh Abdul Qadir Ba’syin Shahib Rubath
10. Habib Abu Bakar bin Muhammad Balfaqih, Shohi Qaidun.

Habib Umar sangat mengagungkan dan menghormati guru beliau yang bernama Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim, bila beliau mendengar nama gurunya yang satu ini di sebut orang, maka wajah beliau berubah karena mengagungkan gurunya tersebut, bahkan ada kalanya Habib Umar bercakap-cakap dengan Habib Husein di tengah suatu majelis, sedangkan ucapan keduanya tidak dapat dimengerti orang lain. Syekh Ali bin Abdillah Baros berkata :
”Habib Umar berkata:

“Pada suatu hari aku mendatangi Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim dengan maksud untuk mudzakarah tentang tariqah tasawuf, kebetulan ketika itu Habib Husein sedang berada ditengah anggota majelis taklimnya. 
Kemudian beliau berkata :

”Wahai Umar, seseorang yang tidak mengerti suatu isyarat, maka ia tidak akan dapat mengambil manfaat dari ibarat yang terang dan siapa yang menjelaskan kata-kata yang sudah jelas, adakalanya dapat menambah pendengarannya makin bertambah bingung.”

Selanjutnya Habib Umar berkata :

”Timbul rasa takut di hatiku bahwa tutur kata guruku setelah kata-kata itu sengaja ditujukan bagiku.”

Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim sangat menghormati Habib Umar, bahkan beliau lebih mengunggulkan Habib Umar dari saudara-saudaranya dan kawan-kawannya. Habib Husein tidak pernah berdiri untuk menghormati orang, seperti halnya untuk Habib Umar. Pada suatu hari, Habib Umar bersama para tokoh Alawiyin datang ke tempat Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim, pada waktu itu Habib Umar merupaka satu-satunya orang yang paling merendahkan diri dan memakai pakaian paling sederhana, ditambah lagi ke dua matanya tidak dapat melihat; ketika Habib Husein melihat Habib Umar berada di paling belakang rombongan itu, maka Habib Husein berubah wajahnya, kemudian beliau berkata kepada orang-orang terkemuka dari rombongan itu :

”Sesungguhnya kalian hanya lebih mengutamakan penampilan lahiriah, dan kalian tidak mau memuliakan orang mulia menurut kedudukan yang sepantasnya, andaikata kalian tahu kemuliaan lelaki ini, Habib Umar, pasti kedudukan kalian tidak ada artinya, leher-leher kalian akan menunuduk dan ruh serta jasad kalian akan rindu kepadanya.” 

Kemudian beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan Habib Umar yang menyebabkan mereka merasa betapa kecilnya dirinya masing-masing.
Sebagai Ulama besar dan Sufi, Habi Umar banyak karomahnya; bahkan sampai ke negeri Cina. Suatu hari, salah seorang anak Habib Umar, yaitu Habib Abdurrahman melawat ke Cina, disana ia bertemu seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.

“Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah berjumpa? Tanyanya. 

“Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya.Habib Umar sering datang ke negeri kami dan beliau sangat terkenal di negeri ini.” Jawab sufi tersebut. 

Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, namun Habib Umar telah berdakwah sampai kesana. 

Sanad penerimaan kalimat Talqin bagi Habib Umar Al Attas.

Beliau menerima kalimat talqin Laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah dari Syekh Al ‘Arif billah Assyarif Umar bin Isa Barakwah As Samarqandi Al Maghribi, yang cabangnya sampai kepada Syekh Abdul qadir Al Jailani, yang sanadnya bersambung sampai dengan Rasulullah SAW.

Budi pekerti Habib Umar Al -Atthas

Beliau dikenal sebagai seorang ‘Alim, ‘Amil, Quthub, Ghauts, Tokoh Sufi, Suci, suka memenuhi janji, Murabbi Rabbani, Da’I, suka mengajak orang ke jalan Allah SWT dengan pandangan yang bersih dan budi pekerti yang luhur, beliau himpun ilmu lahir dan batin, pelindung kaum faqir, janda dan anak yatim. Beliau senantiasa menyambut dan mengembirakan orang-orang faqir, mereka dimuliakan dan didudukkan pada tempat yang mulia, sehingga mereka sangat mencintai beliau. Beliau amat tawadhu’ dan merendahkan dirinya, karena merasa diawasi oleh Allah SWT. Beliau selalu menyuruh orang untuk bersabar, khususnya jika cobaan dan bencana sedang menimpa. Beliau sangat bersabar untuk menjalankan berbagai aktifitas ibadah.
Beliau tidak pernah tidur pada bagian separuh terakhir di malam hari, beliau pernah menghabiskan waktu malamnya untuk mengulang-ngulang bacaan do’a qunut.
Beliau amat sabar dalam menghadapi berbagai krisis, tidak pernah menyombongkan diri kepada seorangpun, mau duduk di tempat mana saja tanpa membedakan tempat yang baik atau jelek dan beliau tidak pernah menempatkan dirinya di tempat yang lebih tinggi atau di tempat yang lebih menonjol dan beliau tidak pernah mendekati kaum penguasa.
Beliau senantiasa mengikuti jejak perjalanan para sesepuh beliau yang terdahulu, para tokoh Ba’Alawi seperti perjalanan yang ditempuh oleh :

• Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’Alawi
• Imam Abdurrahman AS-Segaf
• Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus
• Syekh Abu Bakar bin Salim dll. 

Thoriqah mereka lebih banyak menutupi diri, tawadhu’, tidak menuruti hawa nafsu, lemah lembut, tidak ingin dikenal apalagi menonjolkan diri, karena mereka merasa, bahwa diri mereka tidak akan menjadi orang baik, kecuali hanya dengan anugerah dan kemurahan Allah SWT. Sifat ini tetap diikuti oleh anak cucu mereka, khususnya para wali yang mempunyai kedudukan, ilmu dan gemqar beramal kebajikan dan beribadah.
Jika Habib Umar meningkatkan frekwensi ibadah wajib dan sunnah, maka beliau mengikuti apa yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam Rubu’ul Ibadah didalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, jika beliau ingin memperbaiki niat dan motivasi, maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali didalam kitab Rubu’ul Adat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin; jika beliau ingin menjauhi budi pekerti dan tindak tanduk yang tidak baik, maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali didalam Rubu’ul Muhlikat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin; dan jika ingin mengikuti akhlaq yang diridhoi oleh Allah SWT maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali dalam Rubu’ul Munjiyat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin dan mencari tambahan keterangan dari kitab-kitab yang lain.
Beliau suka berwasiat untuk menyenangkan anak-anak kecil, kata beliau :

”kalau engkau tidak dapat menyenangkan anak kecil dengan memberi sesuatu, maka berikan kepada mereka meskipun sebuah batu kerikil berwarna merah”.

Beliau lebih suka menegendarai keledai di sebagian besar waktunya dan didalam perjalanannya ditengah hari yang amat panas. Disetiap perjalanannya, beliau selalu membawa kitab Ar Risalah karya Imam Qusyairi di satu tangan, sedang di tangan lain memegang kitab Al ‘Awarif. Kata beliau :

”Sesungguhnya, kitab Ar Risalah dan kitab Al ‘Awarifu Al Maarif maupun kitab-kitab yang semacamnya merupakan benteng para tokoh sufi.”

Habib Umar dan guru beliau, Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim melarang orang untuk menghisap rokok dan mengharamkannya.

Kitab-kitab yang dipesankan Habib Umar Al Attas untuk dipelajari

1. Az Zubad karya Syekh Ibnu Ruslan
2. Bidaayatul Hidaayah karya Imam Ghazali. Syekh Ali Baros pernah membaca mukakaddimah kitab Bidaayatul Hidayah di hadapan Habib Umar, kemudian beliau memberi ijazah kepada Syekh Ali Baros, sehingga Allah membuka cabang-cabang ma’rifat baginya.
3. Al Minhaj karya Imam Nawawi. Syekh Abdullah bin Umar Ba’ubaid berkata : “Ketika aku berkunjung ketempat Habib Umar, beliau berkata kepadaku :”Aku pernah membaca kitab Al Irsyad, karya Syekh Ismail Al Muqri. Maka beliau berkata kepada Syekh Ali Baros :”Wahai Ali bacakan kepadanya kitab Al Minhaj Imam Nawawi dan bacakan juga kitab itu kepada kawan-kawanmu; karena kitab tersebut membawa berkah dan memberi futuh, Insya Allah. Sebab pengarangnya seorang wali qutub dan ia berdoa’ bagi setiap pembacanya, semoga diberi barokah.
4. Ar Risalah ( Imam Qusyairi )
5. Al ‘Awarifu Al Ma’arif ( Imam Saharwudi )

Istri-istri Habib Umar Al Attas

1. Sulthonah binti Umar bin Reba’ ; dua anak ( Salim dan Musyayakh.)
2. Aliyah binti Rasam; tiga anak ( Husein, Abdurrahman dan Ali )
3. Putri Mubarak bin Jamil Baras; satu anak ( Mukhsin )
4. Asma’ Ruqoqah binti Ali Ba’isa, tiga anak ( Syekh, Abdullah dan Syaikha )
5. Fatimah binti Abdullah Al Masawa, dua anak ( Alwiyah dan..)
6. Habsyiyah, satu anak ( Fatimah )
7. Fatimah binti Umar bin Sulaiman Al Amiri An Nahdi, satu anak ( Salma )
8. Zubdah, satu anak ( Syekh Albar, wafat saat kecil )

Anak laki-laki beliau yang menurunkan anan cucu : Salim, Husein, Abdurrahman, Syekh dan Abdullah. 

Wafatnya habib Umar Al Attas.

Diceritakan bahwa Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasyim Al Habsyi dan Habib Abdullah Al Haddad datang ke rumah Habib Umar, ingin bertamu. Mereka diterima beliau secara singkat. Dalam pertemuan itu, beliau berdoa’ dan berkata :

”Hari ini adalah hari pertemuan terakhir di dunia, semoga kita dapat bertemu lagi disisi Allah SWT.”

Kemudian beliau menyuruh kepada Habib Abdullah Al Haddad untuk pergi ke Haynan; Habib Ahmad bin Hasyim pergi ke Hajrain; sedangkan Habib Isa bin Muhammad di ajak ke desa bersama beliau.
Menjelang saat wafatnya, beliau mengulang-ngulang bait puisi :

“Wajah kekasihku adalah tatapanku, aku
Senantiasa mrnghadapkan wajahku kepadanya”
“Cukuplah dia sebagai kiblatku dan akupun
Pasrah diri kepadanya”. 

( Ke dua bait puisi di atas adalah ucapan Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Aydrus Al Adani )

Habib Husein bin Umar Al Attas berkata :”Ketika menjelang wafatnya, ayahku mengulang-ngulang bait-bait puisi Al Faqih Umar Bamahramah :

“Jika bukan dikarenakan besarnya harapan kepada Allah dan berkeyakinan baik, terhadap orang-orang yang menghiasi masjid dengan yang selalu menghadiri sholat berjama’ah,
tentunya tak seorangpun diantara kami yang mengharapkan kesenangan pada sisa umur,
sebab beristirahat di pekuburan adalah lebih baik dan lebih bermanfa’at dari hidup di dunia,
berada di antara orang-orang yang suka berbuat fitnah dan suka menghasut.”

Dikatakan pula oleh Habib Husein, bahwa sebelum tiba saat wafatnya, Habib Umar Al Attas sempat mengulang firman Allah SWT : 

“Katakan :”Hai hamba-hambaku yang telah mendzalimi dirinya, janganlah kalian berputus asa dari Rahmat Allah SWT, Sesungguhnya Allah SWT berkenan memberi ampun seluruh dosa-dosa, sesungguhnya Dia Maha Pemberi Ampun dan Maha Penyayang”

Di saat yang sekritis itu, beliau betanya tentang muridnya, Syekh Abbas bin Abdillah Bahafash, sebab beliau minta dimandikan olehnya. Untungnya Syekh Abbas tiba di malam harinya, sebelum beliau wafat, sehingga beliau gembira atas kedatangannya. Sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, beliau minta di wudhui; maka Syekh Abbas bin Bahafash mewudhui beliau. Ketika Syekh Abbas lupa menyela-nyela janggut beliau; maka beliau mengingatkannya dengan gerakan tangan, sebab pada waktu itu beliau sudah tak dapat berkata apa-apa, tentunya hal itu ada sebagai pertanda bahwa beliau mengikuti jejak sunnah Rasulullah SAW; sekalipun di saat yang kritis.
Ketika sedang menghadapi saat-saat terakhir, maka beliau menyuruh orang-orang yang ada disekitarnya untuk berdzikir disisinya dengan suara keras, sehingga terdengar seperti gaungnya tawon. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya dengan keadaan berdzikir dan diiringi dengan suara dzikir dari orang-orang sekitarnya.

Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas wafat di tengah malam, yaitu malam kamis, tanggal 23 Rabi’ul Akhir 1072 H/ 1652 M di desa Nafhun, tetapi jenazah beliau dimakamkan di desa Huraidzah pada kamis sore.
Disebutkan oleh Syekh Abdullah bin Syekh Ali bin Abdullah Baros, katanya, ketika Syekh Ali Baros wafat; maka Syekh Muhammad bin Ahmad Bamasymusy mimpi bertemu dengan Syekh Ali Baros dan ia bertanya kepadanya :

”Dimanakah engkau bertemu dengan Habib Umar ? Jawab Syekh Ali Baros :
”Aku sempat berjabat tangan dengan Habib Umar di dekat Arasy Allah SWT”
Kata-kata Mutiara Habib Umar Al Atthas

• Perhatikan kebiasaan baik yang engkau inginkan, wafat dalam kebiasaan itu, karena itu tetaplah dalam kebiasaan itu, dan perhatikanklah kebiasaan buruk yang engkau tidak inginkan wafat dalam kebiasaan seperti itu, karena itu jauhilah kebiasaan itu.
• Jika engkau melihat seseorang selalu berkelakuan baik, maka yakinlah engkau orang itu teguh agamanya.
• Sumber-sumber ilmu tidak akan berkurang sedikitpun dari generasi terkemudian, akan tetapi pada umumnya mereka datang dengan membawa wadah yang bocor, sehingga tidak memperoleh ilmu kecuali sedikit.
• Sebagian orang yang datang dengan membawa bejana yang dapat mencukupi dalam waktu sebulan, ada juga yang mencukupinya hanya 8 hari, ada juga yang hanya mencukupinya sehari, tetapi ada juga yang dapat mencukupinya sepanjang hidupnya.
• Tentang Sabda Rasulullah SAW :

“Seseorang adakalanya beramal kebajikan-kebajikan sampai antara ia dengan surga hanya tinggal sejengkal, tetapi dalam ketentuan Ilahi, ia ditetapkan sebagai penghuni neraka, sehingga ia melakukan perbuatan-perbuatan amal penghuni neraka, sampai ia masuk neraka. Seseorang adakalanya beramal kejahatan-kejahatan sampai antara ia dengan neraka hanya tinggal sejengkal, tetapi dalam ketetapan Ilahi, ia ditetapkan sebagai calon penghuni surga, maka ia beramal penghuni surga, sampai ia masuk surga.”

Pendapat Habir Umar Al Attas tentang sabda Nabi SAW diatas :

“Seseorang yang selalu mengerjakan amalan ahli surga, kebanyakannya akan masuk ke dalam surga; sebab perbuatan lahiriyah adalah lambang perbuatan batiniyah, jika ia masuk ke dalam neraka, maka hal itu jarang sekali. Hal itu seperti orang yang jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi, tentunya orang itu tidak akan berbahaya. Demikian pula seorang yang melakukan amal-amal ahli neraka, kebanyakannya ia akan masuk ke dalam neraka; tetapi jika ia masuk ke dalam surga, maka hal itu jarang sekali terjadi. Hal itu seperti orang yang jatuh dari puncak gunung, kebanyakan akan wafat”

• Seorang yang melakukan amal kebajikan tetapi ia suka makan yang diharamkan, maka ia seperti seorang yang mengambil air dari tempayan yang datar, tidak akan memperoleh pahala sedikitpun.
• Dulu di antara manusia ada yang datang membawa pelita lengkap dengan minyak dengan koreknya, yakni dengan persiapan yang lengkap, sehingga gurunya dapat menyalakan. Tetapi kini banyak di antara mereka yang datang kepada gurunya, tetapi mereka tidak membawa apapun yang gurunya dapat menyalakan.
• Bersabar itu akibatnya adalah positif. Allah SWT akan selalu memberi akibat positif bagi seorang yang bersabar, alhamdulillah apa yang dikehendaki Allah SWT pasti akan ditentukan dan apa yang akan dilaksanakan Allah SWT, maka akan terlaksana.
• Hendaknya orang-orang yang menghendaki keselamatan Akhirat meninggalkan tidurnya, demi untuk mendapatkan siraman rahmat di malam hari.
• Hendaknya kalian senantiasa menghadirkan hati kalian kepada Allah SWT dan hendaknya kalian bertawakal kepadanya sepenuh hati, sebab Allah SWT mengetahui di manapun kalian berada.
• Syetan dapat menggoda manusia dari sisi manapun yang tak pernah ia perkirakan.
• Buah kurma atau ketimun dari sumber yang halal , lebih baik dari bubur daging dari sumber yang Syubhat.
• Janganlah terlalu peduli dengan dunia dan penghuninya dan janganlah merasa iri pula dengan pakaian atau makanan yang dimiliki oleh penghuninya.
• Alangkah entengnya musibah dalam agama menurut kalian, padahal kalian tidak pernah menyatakan belasungkawa andaikata aku terlambat sholat berjama’ah.
• Yang dikatakan orang baik adalah seorang yang telah melewati pintu surga sampai masuk kedalamnya.
• Kedzaliman kaum penguasa terhadap rakyatnya akan menambah kebajikan bagi rakyat negeri itu, baik di dalam masalah dunianya, maupun akheratnya, yang demikian itu sama halnya dengan sebuah sumur, makin banyak diambil airnya, maka sumur itu makin banyak memancarkan air; sebaliknya jika sumur itu tidak diambil airnya, maka tidak akan bertambah airnya sedikitpun, mungkin airnya akan menjadi busuk, karena air didalamnya tidak pernah bergerak.
• Bila waktu Sholat telah tiba, tinggalkanlah semua kegiatanmu, sebab Allah SWT lebih pantas diperhatikan daripada yang lain.
• Setiap orang yang telah menghatamkan bacaan Al-Qur’an yang ditujukan bagi arwah-arwah orang-orang yang telah wafat, hendaknya ia membaca Tahlil ( Laa ilaha illallah ) sebanyak orang yang ia kehendaki, kemudian dilanjutkan Subhaanallahi Wabihamdihi sebanyak orang yang ia kehendaki; lalu membaca Laa illaha illallah Muhammadur Rasulullah sebanyak 3X dengan memanjangkan bacaannya; lalu Sholawat sebanyak 3X ( Allahumma Sholi ‘Alaa Habibika Sayyidina Muhammadin Wa Aalihi Wa Sohbihi Wasallim ), Lalu hendaknya ia mengucapkan Ya Rasulullah alaika salam Ya Rasulullah salaamun fi salamin ‘alaika sebanyak 3X; Lalu membaca Al Fatihah 1 X, Al Ikhlas 11 X, Al Falaq 1 X, An Naas 1 X, ayat kursi 1 X, Akhir surat Al Baqarah 1 X dan Al Qadr 1 X dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada arwah yang dituju.
• Habib Umar menganjurkan murudnya membaca Istigfar dan Al Hamdulillah sebanyak mungkin setelah membaca maulud.
• Memperbanyak baca Istigfar dan Sholawat, karena keduanya adalah sebaik-baik dzikir yang dapat menolong kesulitan di masa kini.
• Habib Abdullah berkata :”jika engkau mengucapkan 11 X tiap hari bacaan ini, berarti engkau telah menjalankan apa yang pernah diajarkan Habib Umar (Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allaa ilaaha illa anta, Astagfiruka Wa Atuubu ilaika Wa asaluka an Tusholliya Wa Tusallima ala Abdika Wa Rasuulika Sayyidina Muhammadin Wa ‘ala Aalihi Afdola Wa Adwama aslima ma Shollait Wa sallamta alaa Ahadin min ‘Ibaadikal Mustafin. )

Kesaksian orang mulia tentang kebesaran Habib Umar Al Attas

1. Habib Muhammad bin Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Syekh Abdurrahman As Segaf :( Wali di Mekkah )

“Hendaknya setiap orang yang berkepala rela menundukkan kepalanya demi menghorwafat Habib Umar Al Attas dan demi menghorwafat kebesaran Allah SWT, sesungguhnya aku mendengar suara gemerincing di langit, demi untuk menghoewafat Habib Umar Al Attas. Kini tidak seorangpun di kolong langit lebih mulia dari Habib Umar Al Attas”

2. Habib Abdullah Al Haddad :

“Seorang yang mengenali Habib Umar Al Attas, maka akan ia dapati sifat Habib Umar Al Attas mirip dengan Sayyidina Abdurrahman As Segaf. Habib Umar Al Attas adalah ibarat hati dan kebenaran yang dimiliki oleh seseorang dan orang itu tidak memilki nafsu apapun. Habib Umar Al Attas, sifatnya seperti pepohonannya ditanam atas dasar tawadhu dan lemah lembut, sehingga tangkainya seperti itu juga.Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim sangat bangga dikarenakan Habib Umar menunutut dari beliau”

3. Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi :

“Habib Umar sejak kecil sudah gemar beribadah, Zuhud dan menjaga dirinya baik-baik dari sifat buruk. Beliau selalu menghorwafat para wali Allah, pengayom kaum muslim, wanita-wanita janda dan anak-anak yatim dan menghibur mereka dengan berita-berita baik, sehingga mereka amat meyakini dan mencintaibeliau sepenuh hati. 

Murid-murid Habib Umar Al Attas.

1. Putra-putra beliau ( Habib Husein, Habib Salim, Habib Abdurrahman )
2. Habib Aqil ( saudara beliau )
3. Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad
4. Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi
5. Habib Ahmad bin Hasyim Al Habsyi
6. Habib Abdullah bin Ahmad Balfaqih
7. Habib Muhammad bin Abdurrahman Madihij
8. Sayid Ali bin Umar bin Husein bin Ali bin Syekh Abu Bakar
9. Syekh Ali binAbdullah Baros
10. Syekh Muhammad bin Ahmad Bamasymusy
11. Syekh Muhammad bin Umar Alamudi ( jilukannya :Ghazali di Budzah )
12. Syekh Abdullah bin Usman Alamudi
13. Syekh Abdullah bin Ahmad Ba’afif Alamudi
14. Syekh Aqil bin Amir bin Daghmusy
15. Syekh Sahal bin Syekh Ahmad bin Sahal Ishaq
16. Syekh Abdul Kabir bin Abdurrahman Baqis
17. Syekh Muhammad bin Abdul Kabir Baqis
18. Syekh AlFaqih Ahmad bin Abdullah bin Syekh Umar Syarahil
19. Syekh Umar bin Salim Badzib
20. Syekh bin Salim Baubad
21. Habib Husein bin Syekh Ali bin Muhammad Al Aydrus
22. Habib Ahmad bin Umar Al Hinduwan
23. Habib Zein bin Imron Ba’alawi
24. Syekh Abbas bin Abdillah Bahafash
25. Syekh Umar bin Ahmad Al Hilabi
26. Abu Said
27. Habib Abdullah bin Muhammad bin Basurah
28. Syekh Muzahim bin Ali Bajabir
29. Syekh Ali bin Sholeh
30. Qouzan Zahir
31. Al Faqih Abdurrahman Bakatir
32. Syekh Salim bin Abdurrahman Junaid Bawazir
33. Syekh Abu Bakar bin Abdurrahman bin Abdul Ma’bud Wazir
34. Muhammad bin Umar Bawazir
35. Syekh Abdullah bin Sad Bamika Syibami
36. Syekh Ahmad bin Muhammad Bajamal
37. Syekh Ali bin Thoha Assegaf
38. Syekh Umar bin Ali AzZubaidi
39. Al Faqih Abdullah bin Umar Ba’Ubad
40. Syekh Ali bin Ahmad bin Wurud Bawazir
41. Habib Aqil bin Syekh Assegaf 
42. Habib Syekh bin Abdurrahman Al Habsyi
43. Syekh Ali bin Haulan Syekh Sholeh bin Kosim Al Udzri
44. Syekh Mahmud Jummal An Najar ( pernah ketemu Nabi Khidir, tapi tidak minta doa’, karena merasa cukup dengan doa’ Habib Umar )

Ratib Habib Umar Al Attas

Ratib Habib Umar Al Attas diber nama “Azizul Manal Wafathu Babil Wisol” ( Anugerah nan Agung dan pembuka pintu tujuan ) merupakan wirid yang banyak mendatangkan faedah bagi yang gemar membacanya, terutama bagi yang sedang mengalami kesulitan. Habib Umar Al Attas sendiri berwasiat,
“Rahasia dan Hikmah telah Kutitip di dalam Ratib itu”. 
Sebagian Ulama mengatakan:
Dengan membaca Ratib Habib Umar Al Attas atau Ratib Al Haddad setiap malam, Allah SWT akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan dan mengucurkan rejekinya kepada segenap penduduk. Dalam keadaan khusus dan mendesak, Ratib tersebut bisa dibaca 7 s/d 41 X berturut-turut. Begitu hebat fadilah ratib Habib Umar Al Attas, hingga Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husein Al Attas menyatakan bahwa :
“orang yang mengamalkan Ratib tersebut, tidak akan terluka, jika pada suatu hari terpatuk ular.”orang yang bisa mengamalkan ratib-ratib itu tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti.”.Katanya.